Pertanian Indonesia sedang menghadapi persoalan yang mungkin tidak terlihat secara langsung, tetapi dampaknya bisa sangat besar di masa depan.
Bukan hanya soal harga pupuk, harga hasil panen, atau cuaca. Ada persoalan yang jauh lebih mendasar: siapa yang akan menjadi petani di masa depan?
Persoalan regenerasi petani dan semakin banyaknya lahan pertanian yang beralih fungsi kembali menjadi sorotan di Bali. Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Udayana bahkan membawa persoalan tersebut dalam audiensi dengan Gubernur Bali pada 26 Agustus 2026.
Lahan Pertanian Terus Menghadapi Tekanan
Pertanian membutuhkan lahan. Namun, perkembangan kawasan permukiman, pariwisata, industri, dan pembangunan membuat lahan produktif menghadapi tekanan.
Ketika lahan pertanian berubah fungsi, persoalannya bukan hanya hilangnya sebidang tanah.
Di balik satu hektare lahan yang hilang, terdapat potensi produksi pangan yang juga ikut berkurang.
Jika fenomena tersebut terjadi terus-menerus, Indonesia akan menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan produksi pangan dalam jangka panjang.
Masalah Berikutnya: Siapa yang Mau Menjadi Petani?
Persoalan semakin kompleks ketika regenerasi petani tidak berjalan dengan baik.
Generasi muda memiliki banyak pilihan pekerjaan. Menjadi petani sering kali masih dianggap sebagai pekerjaan yang berat, penuh risiko, dan tidak selalu memberikan pendapatan yang pasti.
Padahal, perkembangan teknologi sebenarnya membuka peluang baru.
Pertanian hari ini tidak lagi hanya identik dengan mencangkul dan bekerja di sawah.
Ada greenhouse, hidroponik, smart farming, sensor IoT, mekanisasi pertanian, drone, pemasaran digital, hingga pengolahan hasil pertanian.
Artinya, profesi petani sebenarnya bisa berubah menjadi sebuah bisnis modern.
Petani Masa Depan Harus Menjadi Pengusaha
Tantangan terbesar pertanian Indonesia bukan hanya meningkatkan produksi.
Petani juga harus mampu memahami pasar.
Menanam komoditas tanpa mengetahui siapa pembelinya bisa membuat petani mengalami masalah ketika panen.
Sebaliknya, petani yang mengetahui kebutuhan pasar dapat menentukan komoditas, kualitas, waktu tanam, hingga strategi penjualan.
Inilah yang membuat konsep petani sebagai entrepreneur menjadi semakin penting.
Petani masa depan bukan hanya orang yang menghasilkan bahan pangan, tetapi juga memahami teknologi, menghitung biaya produksi, membaca peluang pasar, membangun merek, dan menciptakan nilai tambah.
Teknologi Bisa Menjadi Jalan Keluar
Teknologi pertanian dapat membantu membuat pekerjaan lebih efisien.
Mulai dari sistem irigasi otomatis, pemantauan kondisi tanaman, penggunaan drone, hingga greenhouse dengan sensor.
Teknologi juga dapat membuat pertanian lebih menarik bagi generasi muda karena memberikan ruang bagi mereka untuk menggabungkan dunia pertanian dengan teknologi digital.
Namun, teknologi saja tidak cukup.
Diperlukan ekosistem yang mendukung: akses modal, kepastian pasar, pendampingan, pendidikan, infrastruktur, dan kebijakan yang berpihak kepada petani.
Ancaman Ini Bukan Hanya Masalah Petani
Ketika jumlah petani berkurang dan lahan pertanian semakin menyusut, dampaknya pada akhirnya akan dirasakan oleh masyarakat luas.
Karena pangan tidak muncul begitu saja di pasar.
Ada petani yang menanamnya, ada peternak yang memproduksi protein hewani, ada pekerja yang mengolahnya, dan ada distribusi panjang sebelum makanan tersebut sampai ke meja makan.
Karena itu, menjaga pertanian sebenarnya berarti menjaga ketahanan pangan masyarakat.
Anak Muda Harus Mulai Melihat Pertanian dari Sudut Pandang Baru
Pertanian tidak harus selalu dimulai dari memiliki lahan yang luas.
Anak muda dapat memulainya dari skala kecil.
Bisa melalui sayuran, hidroponik, pembibitan, peternakan, pengolahan hasil pertanian, pupuk organik, pemasaran produk pertanian, atau menjadi bagian dari rantai bisnis pangan.
Yang penting adalah melihat pertanian bukan hanya sebagai pekerjaan, tetapi sebagai sektor bisnis yang memiliki masa depan.
Indonesia membutuhkan generasi baru yang mau masuk ke sektor pertanian dan peternakan.
Bukan sekadar menjadi petani seperti generasi sebelumnya, tetapi menjadi petani modern yang menguasai teknologi, bisnis, dan pasar.
Karena pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan hanya:
“Siapa yang mau menjadi petani?”
Tetapi:
“Kalau generasi muda tidak mau bertani, siapa yang akan menghasilkan makanan untuk Indonesia 20 atau 30 tahun lagi?”
Inilah tantangan besar pertanian Indonesia yang harus mulai dipikirkan sejak sekarang.