Dari Perantauan hingga Mengembangkan Lidah Buaya sebagai Komoditas Unggulan Gunungkidul

Bagi sebagian orang, lidah buaya atau aloe vera mungkin hanya dikenal sebagai tanaman hias atau tanaman yang digunakan untuk perawatan rambut. Namun, bagi Alana Fendi, tanaman ini memiliki potensi jauh lebih besar. Melalui usahanya, Rasana Verena Aloe Land, Alana mengembangkan lidah buaya tidak hanya dari sisi budidaya, tetapi juga mengolahnya menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.

Rasana Verena Aloe Land bergerak di bidang budidaya sekaligus pengolahan aloe vera dan berlokasi di Dusun Jeruk Legi, Desa Katongan, Kecamatan Nglipar, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari tempat inilah Alana mencoba membangun sebuah ekosistem usaha yang menghubungkan petani, pengolahan, produk, hingga pasar.

Melihat Potensi Lidah Buaya yang Belum Banyak Dilihat

Menurut Alana, lidah buaya masih sering dianggap sebagai tanaman yang kurang menarik dibandingkan komoditas pertanian lainnya. Padahal, di luar negeri aloe vera telah menjadi salah satu komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Salah satu alasannya adalah karena aloe vera dapat masuk ke berbagai sektor industri. Tanaman ini dapat dimanfaatkan dalam industri farmasi, kosmetik, makanan dan minuman atau F&B, hingga sektor pertanian. Bahkan, limbahnya masih dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk seperti pupuk organik cair dan eco-enzyme.

Potensi tersebut kemudian membuat Alana berpikir, mengapa lidah buaya tidak dikembangkan menjadi salah satu komoditas unggulan di Gunungkidul?

Gunungkidul sendiri menurut pengalamannya memiliki kondisi lingkungan yang cukup sesuai untuk budidaya aloe vera. Tanaman ini relatif menyukai kondisi yang panas dan tidak membutuhkan banyak air. Karakter tersebut dianggap sesuai dengan kondisi lingkungan Gunungkidul yang memiliki karakter tanah dan iklim tertentu.

Selain cocok secara lingkungan, lidah buaya juga relatif mudah dalam perawatannya.

Pulang dari Jakarta dan Memilih Bertani

Perjalanan Alana mengembangkan lidah buaya bermula sekitar tahun 2013. Saat itu, ia masih berada di perantauan dan tinggal di Jakarta untuk kuliah sekaligus bekerja.

Namun, seiring berjalannya waktu muncul kegelisahan dalam dirinya. Ia merasa belum menemukan sesuatu yang benar-benar menjadi keunggulan dirinya dan belum mampu memberikan kontribusi yang berarti bagi keluarga maupun lingkungan asalnya.

Bekerja dari pagi hingga malam membuatnya berpikir bahwa harus ada sesuatu yang bisa dilakukan untuk kampung halaman.

Akhirnya muncul keinginan untuk kembali ke Gunungkidul. Persoalannya kemudian adalah: usaha apa yang bisa dilakukan?

Latar belakang pendidikannya sebenarnya bukan pertanian. Saat STM, Alana mengambil jurusan otomotif, sedangkan ketika kuliah ia belajar sistem informasi. Namun, ia merasa kedua bidang tersebut belum benar-benar dapat diaplikasikan secara maksimal dalam kehidupannya.

Ia kemudian mulai mempertimbangkan pertanian.

Pilihan tersebut ternyata tidak mudah. Seperti yang dialami banyak anak muda, dunia pertanian sebelumnya justru sering dipandang kurang menjanjikan. Orang tua pun pada umumnya menginginkan anaknya memiliki pekerjaan yang dianggap lebih aman dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Namun, Alana memiliki pandangan berbeda.

Baginya, pertanian justru merupakan sektor yang sangat penting karena berkaitan langsung dengan ketahanan sebuah negara.

Dari Anggur hingga Lidah Buaya

Sebelum memilih aloe vera, Alana sempat mempertimbangkan beberapa komoditas. Ada anggur, pepaya California, buah naga, dan terakhir lidah buaya.

Ia kemudian mencari informasi dari berbagai sumber, mulai dari buku, internet, hingga orang-orang yang sudah lebih dulu terjun ke masing-masing komoditas tersebut.

Dari proses tersebut, lidah buaya menjadi pilihan.

Alasannya sederhana: Alana mencari komoditas yang relatif mudah dibudidayakan dan tidak membutuhkan perawatan yang terlalu intensif seperti beberapa jenis tanaman buah lainnya.

Setelah dicoba, lidah buaya ternyata juga mampu tumbuh dengan baik di lingkungan Gunungkidul. Kondisi panas serta karakter media tanah yang ada dianggap sesuai dengan kebutuhan tanaman tersebut.

Dari sinilah muncul keyakinan untuk mengembangkan aloe vera sebagai komoditas yang memiliki nilai ekonomi.

Pada 2014, Alana akhirnya berani meninggalkan Jakarta dan kembali ke kampung halaman untuk merintis usaha pertanian yang fokus pada lidah buaya.

Dari Budidaya hingga Memberdayakan Petani

Usaha tersebut kemudian berkembang dari sekadar budidaya menjadi pengolahan produk. Salah satu produk rintisan yang dikembangkan adalah minuman berbahan dasar lidah buaya.

Pada 2015, Alana mulai memikirkan bagaimana usaha tersebut tidak hanya meningkatkan ekonomi keluarganya, tetapi juga memberikan dampak bagi masyarakat sekitar.

Konsep pemberdayaan kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan usahanya.

Saat ini, Rasana Verena Aloe Land telah memiliki sekitar 125 petani mitra yang disebut sebagai petani milenial, dengan sebagian besar didominasi oleh ibu-ibu dan masyarakat yang lebih tua.

Dalam pola tersebut, petani berperan melakukan budidaya. Ketika tanaman memasuki masa panen, hasilnya kemudian diserap untuk diolah menjadi berbagai produk.

Dengan demikian, usaha tidak berhenti pada kegiatan menanam dan memanen, tetapi berlanjut hingga proses pengolahan dan pemasaran.

Mengapa Lidah Buaya Menarik?

Setelah memilih aloe vera, Alana juga harus memahami lebih jauh karakter dan potensi tanaman tersebut.

Lidah buaya dikenal luas sebagai bahan yang digunakan dalam industri kosmetik. Berbagai produk perawatan tubuh menggunakan bahan aloe vera, mulai dari produk perawatan rambut hingga produk perawatan kulit.

Selain kosmetik, aloe vera juga telah banyak diteliti dan dimanfaatkan dalam berbagai produk pangan dan kesehatan. Dalam pengalaman Alana, sejumlah pelanggan yang membeli produk minuman olahannya juga memberikan respons positif berdasarkan pengalaman mereka masing-masing.

Namun, Alana menekankan bahwa produk minuman yang dibuatnya bukan obat.

Ia juga menjelaskan bahwa lidah buaya tidak sebaiknya dikonsumsi secara mentah. Pada bagian tanaman terdapat lateks atau aloin berwarna kekuningan yang perlu dihilangkan melalui proses pengolahan.

Karena itu, sebelum dikonsumsi, lidah buaya perlu melalui proses seperti pencucian, perendaman, atau blanching untuk mengurangi kandungan tersebut.

Untuk penyimpanan lidah buaya yang telah diproses secara sederhana, menurut pengalamannya produk dapat disimpan di dalam chiller hingga sekitar satu minggu. Salah satu tanda produk mulai tidak layak dikonsumsi adalah perubahan tekstur menjadi semakin berair dan lunak.

Kunci Budidaya Lidah Buaya

Meskipun relatif mudah dibudidayakan, bukan berarti lidah buaya dapat ditanam tanpa memperhatikan teknik.

Salah satu hal pertama yang perlu diperhatikan adalah pemilihan varietas.

Menurut Alana, aloe vera memiliki ratusan jenis di seluruh dunia. Di Indonesia terdapat beberapa jenis yang banyak dibudidayakan, di antaranya Aloe sinensis Baker, Aloe barbadensis Miller, dan Aloe ferox.

Dari ketiga jenis tersebut, menurut pengalaman Alana, Aloe sinensis Baker merupakan salah satu jenis yang banyak digunakan dan dibudidayakan karena ukurannya relatif besar serta sesuai untuk kebutuhan industri.

Media Tanam Harus Poros

Lidah buaya berasal dari lingkungan yang relatif kering. Karena itu, kondisi media tanam perlu dibuat menyerupai lingkungan tersebut.

Media yang terlalu padat dan menyimpan terlalu banyak air dapat menjadi masalah, terutama saat musim hujan.

Menurut pengalaman Alana dalam budidaya, media tanam perlu dibuat poros agar air mudah keluar. Media seperti pasir, pasir Malang, sekam bakar, atau perlit dapat digunakan sebagai bahan untuk meningkatkan porositas.

Untuk budidaya dalam pot, ia memiliki pengalaman menggunakan komposisi media yang terdiri dari media pemoros, tanah, dan pupuk.

Media yang terlalu padat dapat membuat sirkulasi udara menjadi buruk. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko munculnya penyakit, termasuk Fusarium, yang menurut pengalamannya menjadi salah satu masalah umum pada tanaman lidah buaya ketika kondisi media terlalu basah dan sirkulasinya buruk.

Membutuhkan Cahaya Matahari

Selain media, intensitas cahaya juga menjadi faktor penting.

Lidah buaya menyukai cahaya matahari. Alana menyarankan agar tanaman mendapatkan paparan sinar matahari yang cukup, sekitar 6–7 jam per hari.

Dengan mendapatkan cahaya yang intensif, pertumbuhan tanaman diharapkan menjadi lebih maksimal, termasuk menghasilkan pelepah yang lebih besar dan tebal.

Kapan Lidah Buaya Siap Dipanen?

Menurut pengalaman Alana, tanaman yang berasal dari bibit berumur sekitar 2–3 bulan dengan tinggi kurang lebih 15 cm membutuhkan waktu sekitar 12–15 bulan untuk dapat dipanen pertama kali.

Ada beberapa tanda yang dapat digunakan untuk melihat kesiapan panen.

Pertama adalah umur tanaman. Setelah berumur sekitar 12–15 bulan, tanaman mulai memasuki masa panen.

Kedua adalah kondisi pelepah. Pelepah yang sudah berat biasanya mulai menjuntai atau turun ke bawah. Kondisi tersebut menjadi salah satu tanda bahwa daging di dalam pelepah sudah berkembang maksimal.

Tanda lainnya adalah perubahan kondisi bintik-bintik pada bagian bawah daun serta munculnya bunga pertama.

Namun, Alana menegaskan bahwa setiap petani bisa memiliki klasifikasi kesiapan panen yang berbeda berdasarkan pengalaman masing-masing.

Dari sisi ukuran, tidak ada satu ukuran mutlak untuk semua tanaman. Akan tetapi, menurut pengalamannya, industri dapat menerima pelepah dengan bobot sekitar 400 gram sebagai ukuran minimal, sementara beberapa pelepah dapat mencapai 1–1,5 kilogram.

Jarak Tanam Menentukan Kemudahan Perawatan

Jumlah tanaman yang dapat ditanam dalam suatu lahan sangat bergantung pada jarak tanam.

Untuk lahan yang relatif sempit, jarak 50 × 70 cm dapat digunakan sebagai jarak yang cukup dekat. Namun, jarak yang terlalu rapat dapat menyulitkan proses perawatan, penyiangan, penyiraman, hingga panen.

Untuk lahan yang lebih luas, Alana menyebut jarak tanam 1 × 1 meter sebagai jarak yang lebih ideal untuk kebutuhan industri. Dengan jarak tersebut, mobilitas pekerja maupun penggunaan alat seperti gerobak dapat menjadi lebih mudah.

Jumlah tanaman dalam satu hektare kemudian dapat dihitung berdasarkan luas lahan dan jarak tanam yang digunakan.

Mampu Mengolah hingga 500 Kilogram per Hari

Sebagai UMKM, kapasitas pengolahan Rasana Verena Aloe Land saat ini berada di kisaran 250–500 kilogram bahan baku per hari.

Jumlah tersebut dapat berubah mengikuti kebutuhan pasar. Saat musim liburan atau menjelang Ramadan dan Idulfitri, permintaan produk dapat meningkat sehingga persiapan bahan baku juga harus ditingkatkan.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, panen dilakukan secara rotasi dari beberapa lokasi lahan. Selain dari lahan pribadi, kebutuhan bahan baku juga diperoleh dari tanaman milik masyarakat yang menjadi mitra.

Dengan pola tersebut, hasil panen tidak harus dikumpulkan sekaligus, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan produksi harian.

Mengembangkan Lidah Buaya Menjadi Produk Minuman

Potensi aloe vera sebenarnya sangat luas. Tanaman tersebut dapat dikembangkan untuk kosmetik, farmasi, maupun makanan dan minuman.

Namun, Rasana Verena Aloe Land saat ini lebih fokus pada produk minuman.

Produk yang dikembangkan hadir dalam beberapa bentuk kemasan, seperti cup, botol, dan standing pouch.

Untuk produk botol, terdapat beberapa varian, antara lain minuman aloe vera dengan gula batu dan berbagai pilihan rasa, produk dengan pemanis stevia, serta produk yang menggunakan madu kelanceng sebagai bahan tambahan.

Produk dengan stevia dikembangkan untuk menjangkau konsumen yang ingin mengurangi konsumsi gula. Sementara itu, penggunaan madu kelanceng menjadi bagian dari inovasi terbaru yang masih dalam tahap pengembangan.

Untuk produk tersebut, Rasana Verena Aloe Land juga berkolaborasi dengan BRIN atau Badan Riset dan Inovasi Nasional dalam pengembangan teknologi tepat guna dan penelitian lebih lanjut.

Memilih Produk Minuman untuk Mempertahankan Kandungan Aloe Vera

Salah satu alasan Alana fokus pada produk minuman adalah proses pengolahannya.

Menurut pengalaman dan penelitian yang ia sampaikan bersama rekan-rekannya di BRIN, produk aloe vera dalam bentuk nata dianggap dapat mempertahankan lebih banyak karakteristik bahan dibandingkan pengolahan yang menggunakan proses ekstrem atau pemanasan dalam waktu lama.

Karena itu, produk minuman berbentuk nata dadu dipilih. Prosesnya meliputi perendaman dan blanching, bukan pemasakan dalam waktu lama.

Alana menjelaskan bahwa proses pengolahan yang panjang dan intensif berpotensi mengubah karakteristik bahan. Oleh karena itu, dengan kemampuan produksi yang dimiliki saat ini, ia memilih proses yang relatif sederhana untuk menghasilkan minuman berbahan aloe vera.

Peluang Pasar Aloe Vera Masih Terbuka

Menurut Alana, peluang lidah buaya ke depan cukup besar.

Hal tersebut tidak hanya terlihat dari produk jadi yang diminati konsumen. Sejak 2014 hingga 2026, ia mengaku telah mendapatkan berbagai tawaran untuk memproduksi bahan baku maupun produk setengah jadi dalam skala industri.

Beberapa di antaranya berupa gel atau liquid yang dapat digunakan sebagai bahan baku untuk industri farmasi dan kosmetik.

Selain itu, terdapat pula permintaan terhadap bahan baku berupa daun aloe vera untuk dibudidayakan dan menjadi pemasok industri, termasuk permintaan raw material untuk perusahaan maklon kosmetik.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar aloe vera tidak hanya berada pada produk akhir, tetapi juga terbuka pada bahan baku dan produk setengah jadi.

Budidaya Saja Tidak Cukup

Meski peluang pasarnya besar, Alana mengingatkan bahwa membangun usaha pertanian tidak cukup hanya dengan mampu menghasilkan produk.

Branding dan membangun relasi juga sangat penting.

Petani atau pelaku usaha harus memiliki portofolio dan memperkenalkan usahanya kepada lebih banyak orang. Media juga dapat menjadi sarana untuk memperluas eksposur sehingga calon mitra maupun konsumen dapat mengetahui usaha yang dijalankan.

Menurutnya, seseorang yang baru mulai membudidayakan sebuah komoditas harus memikirkan pasar sejak awal.

Jangan sampai ketika tanaman sudah siap panen, pelaku usaha baru mulai bertanya ke mana hasil panen tersebut akan dijual.

Karena itu, sebelum memulai budidaya, penting untuk membangun relasi, belajar dari pelaku usaha lain, mengikuti perkembangan komoditas, dan mencari calon pasar.

Dengan begitu, ketika produk sudah siap, sudah ada pihak yang dapat menyerap hasil produksi.

Heksahelix untuk Mempercepat Pertumbuhan Usaha

Dalam mengembangkan usaha, Alana juga menerapkan konsep heksahelix.

Konsep tersebut melibatkan enam unsur yang menurutnya dapat membantu mempercepat pertumbuhan usaha, khususnya bagi UMKM.

Pertama adalah pemerintah. Pemerintah diharapkan dapat memberikan kemudahan legalitas dan perlindungan bagi UMKM, sekaligus membuka akses terhadap berbagai program pendukung.

Kedua adalah akademisi. Peran akademisi dapat membantu dari sisi riset, teknologi, penelitian, teknologi tepat guna, hingga program magang yang dapat mendukung proses usaha.

Ketiga adalah pelaku usaha atau bisnis. Kolaborasi dengan sesama pelaku usaha dapat membuka peluang kerja sama, investasi, pertukaran pengetahuan, maupun solusi ketika menghadapi masalah.

Keempat adalah komunitas. Kelompok tani, karang taruna, lembaga swadaya masyarakat, hingga influencer dapat menjadi bagian dari jaringan kolaborasi yang saling menguntungkan.

Kelima adalah media. Media berperan penting dalam memberikan eksposur terhadap kegiatan dan produk sehingga usaha dapat dikenal oleh masyarakat yang lebih luas.

Keenam adalah lingkungan. Usaha tidak hanya harus menghasilkan keuntungan, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan.

Salah satu bentuknya adalah menerapkan ekonomi sirkular dengan memanfaatkan limbah produksi. Limbah lidah buaya seperti lendir dan kulit dapat diolah kembali menjadi produk seperti eco-enzyme dan pupuk organik cair.

Menurut Alana, penerapan konsep heksahelix dapat menjadi akselerator. Target usaha yang mungkin membutuhkan waktu tiga hingga empat tahun dapat dipersingkat menjadi satu atau dua tahun apabila berbagai unsur tersebut dapat berkontribusi secara maksimal.

Dari Hulu hingga Hilir, Pertanian Harus Memberikan Dampak

Rasana Verena Aloe Land juga membuka kesempatan bagi masyarakat, kelompok, maupun organisasi yang ingin belajar mengenai aloe vera.

Pembelajaran tersebut tidak hanya mengenai budidaya, tetapi dapat dilakukan dari sisi hulu hingga hilir, termasuk pengolahan dan produk turunannya.

Bagi pengunjung yang ingin melihat langsung maupun membeli produk, produk Aloe Land juga telah dipasarkan melalui berbagai toko oleh-oleh di Yogyakarta. Menurut Alana, produknya telah dikonsinyasikan di sekitar 140 toko oleh-oleh dan juga tersedia di area Bandara YIA.

Pertanian Bukan Pilihan Kelas Dua

Pada akhirnya, perjalanan Alana bukan hanya tentang lidah buaya.

Lebih jauh, kisah tersebut merupakan gambaran bagaimana seseorang yang awalnya tidak memiliki latar belakang pertanian dapat kembali ke kampung halaman dan membangun usaha dari sebuah komoditas yang sebelumnya dianggap kurang menarik.

Alana ingin mengubah pandangan bahwa pertanian identik dengan pekerjaan kotor, kurang menjanjikan, atau hanya diperuntukkan bagi masyarakat tertentu.

Menurutnya, pertanian justru merupakan salah satu sektor paling penting bagi masa depan.

Teknologi dapat berkembang, sumber daya alam dapat menjadi rebutan, tetapi kebutuhan manusia terhadap pangan tidak akan pernah hilang.

Karena itu, pertanian merupakan bagian fundamental dari kehidupan sebuah negara.

Bagi generasi muda yang sedang mempertimbangkan untuk terjun ke dunia pertanian, Alana justru melihatnya sebagai pilihan yang sangat tepat.

Pertanian bukan sekadar aktivitas menanam. Di dalamnya terdapat peluang bisnis, inovasi teknologi, industri pengolahan, pemberdayaan masyarakat, hingga ekonomi sirkular.

Dan dari sebuah tanaman yang selama ini dianggap sederhana seperti lidah buaya, ternyata dapat lahir sebuah ekosistem usaha yang menghubungkan petani, industri, teknologi, masyarakat, dan pasar.