Pertanian sering kali masih dianggap sebagai pekerjaan yang kotor, berat, dan kurang menjanjikan secara ekonomi. Pandangan tersebut menjadi salah satu tantangan yang membuat generasi muda semakin enggan terjun ke dunia pertanian.
Namun, pandangan itu coba diubah oleh SMK Negeri 1 Ngablak, Kabupaten Magelang, melalui Greenhouse Semara Interponik. Di tempat ini, pertanian diperkenalkan dengan pendekatan yang berbeda, yaitu memadukan kegiatan budidaya dengan teknologi modern.
Emeralda Firdausawijaya, salah satu guru di SMK Negeri 1 Ngablak, menjelaskan bahwa greenhouse tersebut merupakan salah satu teaching factory sekolah. Teknologi Internet of Things (IoT) digunakan untuk membantu mengelola nutrisi sekaligus mengatur iklim mikro di dalam greenhouse.
Menurutnya, pertanian akan tetap menjadi kebutuhan manusia di masa depan. Sebab, selama manusia masih membutuhkan makanan, sektor pertanian akan selalu memiliki peran penting.
Menjawab Tantangan Minat Anak Muda
Salah satu persoalan yang dihadapi dunia pertanian adalah rendahnya minat pelajar untuk menekuninya. Bagi sebagian anak muda, pertanian dianggap tidak memberikan penghasilan yang cukup besar.
Selain itu, pekerjaan sebagai petani juga masih identik dengan lingkungan yang kotor dan melelahkan. Di tengah perkembangan profesi seperti influencer dan gamer yang dianggap menawarkan penghasilan besar dengan cara yang lebih menarik, pertanian menjadi semakin kurang diminati.
Padahal, pertanian memiliki tantangan sekaligus peluang yang besar.
Melalui greenhouse, SMK Negeri 1 Ngablak ingin menunjukkan bahwa pertanian tidak harus selalu identik dengan pekerjaan yang kotor dan merepotkan. Dengan teknologi dan pengelolaan yang tepat, kegiatan pertanian dapat dilakukan secara lebih terkontrol.
Bahkan, persoalan harga dan pemasaran juga dapat diatasi melalui kerja sama dengan pasar sebelum produksi dilakukan. Dengan begitu, hasil panen memiliki tujuan pasar yang lebih jelas dan harga dapat lebih terjaga.
Siswa Belajar Bertani dengan Standar Industri
Greenhouse ini tidak hanya digunakan sebagai tempat produksi. Lebih dari itu, greenhouse menjadi ruang belajar bagi para siswa.
Mereka dilibatkan dalam hampir seluruh proses produksi, mulai dari penjadwalan penanaman, penyemaian, perawatan, panen, packing, hingga penyetoran hasil kepada bagian penjualan.
Siswa juga dituntut untuk bertanggung jawab terhadap pekerjaan mereka. Ketika hasil panen dan penjualan berjalan baik, mereka dapat memperoleh bagi hasil.
Konsep tersebut mengajarkan bahwa kerja keras, kedisiplinan, dan tanggung jawab memiliki hubungan langsung dengan hasil yang diperoleh.
Inilah yang menjadi konsep teaching factory. Siswa tidak hanya mendapatkan teori di kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman praktik dengan standar yang mendekati dunia industri.
Harapannya, setelah lulus mereka tidak hanya siap bekerja di perusahaan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk membangun greenhouse dan menjalankan usaha pertanian secara mandiri.
Mengenalkan Siomak, Sayuran yang Masih Jarang Dikenal
Salah satu komoditas yang dibudidayakan di greenhouse ini adalah siomak.
Siomak merupakan sayuran yang memiliki tekstur seperti selada dengan karakter rasa yang merupakan perpaduan antara selada dan sawi. Sayuran ini biasanya dikonsumsi dengan cara ditumis.
Berbeda dengan selada dan sawi yang sudah lebih familiar di masyarakat, siomak masih tergolong belum umum di pasaran. Tanaman ini berasal dari Cina dan namanya pun masih terdengar asing bagi sebagian masyarakat Indonesia.
Meski demikian, siomak ternyata memiliki pasar tersendiri, terutama di wilayah perkotaan.
Selain siomak, greenhouse juga membudidayakan selada dan pakcoy. Ketiganya memiliki karakter budidaya yang relatif mirip sehingga dapat dikelola menggunakan sistem hidroponik NFT dengan nutrisi yang sama.
Panen Sekitar Empat Minggu
Dalam budidayanya, siomak, selada, dan pakcoy dapat dipindahkan setelah melalui proses penyemaian. Tanaman kemudian dapat dipanen sekitar empat minggu.
Untuk sayuran daun tersebut, target bobot panen sekitar 100 gram. Hasil panen kemudian dikemas dan dipasarkan ke supermarket.
Greenhouse ini memiliki empat meja untuk komoditas yang dibudidayakan. Dalam satu bulan, satu komoditas dapat menghasilkan sekitar 92 kilogram.
Untuk pemasaran, sayuran dijual dalam kemasan 200 gram dengan harga sekitar Rp7.000, menyesuaikan permintaan supermarket.
Greenhouse Membantu Mengatasi Tantangan Cuaca dan Hama
Salah satu keuntungan menggunakan greenhouse adalah kondisi lingkungan dapat lebih dikendalikan dibandingkan budidaya di lahan terbuka.
Jika ditanam di luar greenhouse, tanaman menghadapi berbagai tantangan seperti perubahan cuaca, hujan, panas, serta serangan hama.
Greenhouse yang digunakan di SMK Negeri 1 Ngablak menerapkan konsep closed house. Sirkulasi udara diatur menggunakan cooling pad dan exhaust fan, sehingga suhu serta kelembapan dapat dikontrol.
Serangan hama juga dapat ditekan. Meski demikian, hama tetap bisa masuk, salah satunya terbawa melalui pakaian atau sepatu siswa ketika melakukan praktik dari lahan luar.
Untuk menjaga kebersihan, meja tanam dibersihkan dan disterilkan setelah panen. Meja dicuci, disikat, kemudian dibiarkan selama sekitar dua hari sebelum digunakan kembali.
Nilai Tambah Sayuran Hidroponik
Menurut Emeralda, salah satu nilai tambah sayuran hidroponik terletak pada kualitasnya. Sayuran memiliki tekstur yang lebih renyah atau crunchy ketika dikonsumsi.
Selain itu, sayuran yang dibudidayakan di greenhouse tersebut juga ditujukan untuk menghasilkan produk yang lebih bersih dan sehat.
Hal inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa produk hidroponik memiliki peluang untuk menyasar konsumen perkotaan dan pasar modern.
Pertanian sebagai Pilihan Masa Depan
Melalui greenhouse ini, SMK Negeri 1 Ngablak tidak hanya mengajarkan cara menanam. Sekolah juga berusaha mengubah cara pandang generasi muda terhadap pertanian.
Pertanian diperkenalkan sebagai bidang yang dapat memanfaatkan teknologi, memiliki sistem produksi yang terukur, serta mempunyai peluang bisnis.
Lebih jauh lagi, pertanian dianggap sebagai sektor yang akan tetap dibutuhkan manusia. Teknologi dan kecerdasan buatan mungkin dapat menggantikan sebagian pekerjaan di berbagai sektor, tetapi kebutuhan manusia terhadap pangan tidak akan pernah hilang.
Karena itu, generasi muda memiliki peran penting untuk menjaga keberlanjutan sektor pertanian.
Harapan Emeralda sederhana: semakin banyak anak muda yang mau bertani dan ikut menghasilkan pangan yang sehat bagi masyarakat.
Dengan hidroponik dan teknologi modern, pertanian dapat menghasilkan pangan dengan cara yang lebih bersih, sehat, dan terkontrol.
Pada akhirnya, Greenhouse Semara Interponik menjadi bukti bahwa pertanian tidak harus identik dengan pekerjaan yang kotor dan tradisional. Dengan teknologi, pendidikan, dan keberanian untuk mencoba, pertanian justru bisa menjadi bidang yang modern sekaligus memiliki masa depan.

