Masa pensiun sering kali dianggap sebagai waktu untuk beristirahat dan meninggalkan kesibukan. Namun, bagi Agus Sistio, pensiun justru menjadi awal dari perjalanan baru. Setelah sebelumnya berkarier di sektor jasa keuangan, ia memilih menekuni dunia pertanian dan membangun gaya hidup yang ia sebut sebagai slow living.
Bagi Agus, slow living bukan berarti berhenti melakukan aktivitas. Justru sebaliknya, slow living adalah kesempatan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda dari rutinitas sebelumnya.
“Biasanya sibuk dengan rutinitas, sekarang kita sibuk menciptakan sesuatu yang baru,” menjadi gambaran bagaimana Agus menjalani kehidupannya setelah pensiun.
Memilih Berkebun untuk Menikmati Masa Pensiun
Ketertarikan Agus pada perkebunan berawal dari keinginannya untuk menjalani kehidupan yang lebih tenang. Berkebun memberinya kesempatan untuk melakukan aktivitas yang disukai sekaligus mengurangi tekanan dari pekerjaan yang sebelumnya penuh dengan rutinitas dan persoalan kompleks.
Namun, Agus tidak ingin sekadar berkebun tanpa perhitungan. Ia melihat masih banyak petani dan pemilik kebun yang mendapatkan hasil kurang maksimal. Dari situlah muncul keinginannya untuk belajar bagaimana membangun usaha pertanian dengan risiko yang dapat dikendalikan.
Menurutnya, salah satu risiko terbesar dalam pertanian adalah alam dan cuaca. Karena itu, ia mencari metode budidaya yang memungkinkan risiko tersebut diminimalkan.
Pilihan tersebut akhirnya jatuh pada greenhouse.
Greenhouse Menjadi Pilihan di Lahan Terbatas
Dari hasil riset dan proses belajar, Agus melihat greenhouse sebagai salah satu solusi untuk menjalankan usaha pertanian dengan lahan terbatas sekaligus mengendalikan sebagian risiko.
Greenhouse yang dikembangkan tidak harus berukuran besar. Salah satu greenhouse yang ia gunakan memiliki ukuran sekitar 9 x 20 meter dengan luas kurang lebih 200 meter persegi.
Menariknya, lahan tersebut mampu digunakan untuk menanam sekitar 500 tanaman melon.
Dengan asumsi rata-rata satu tanaman menghasilkan melon seberat 1,5 kilogram, maka 500 tanaman dapat menghasilkan sekitar 750 kilogram melon. Jika melon premium dihargai sekitar Rp30.000 per kilogram, potensi omzetnya dapat mencapai sekitar Rp22,5 juta dalam satu siklus sekitar dua bulan, berdasarkan perhitungan yang disampaikan Agus.
Angka tersebut membuat Agus melihat bahwa pertanian dengan lahan terbatas tetap memiliki peluang ekonomi apabila dikelola dengan perhitungan yang tepat.
Selain efisiensi lahan dan waktu, greenhouse juga memungkinkan pekerjaan dikelola dengan tenaga yang relatif sedikit. Dalam satu greenhouse, pekerjaan bahkan cukup dibantu oleh satu orang.
Tidak Hanya Menjual Melon, tetapi Menjual Pengalaman
Perjalanan Agus tidak berhenti pada budidaya.
Pada awalnya, ia menghadapi persoalan yang umum dialami petani: setelah panen, produk harus dijual ke mana?
Ia menyadari bahwa kualitas melon sangat berhubungan dengan harga. Harga yang diterima petani ketika menjual kepada pedagang tentu berbeda dengan harga yang bisa diperoleh langsung dari konsumen.
Karena itu, Agus kemudian melihat bahwa pasar terbaik adalah end user atau konsumen akhir.
Selain mendapatkan harga yang lebih maksimal, penjualan langsung juga membuat perputaran uang menjadi lebih cepat.
Namun, Agus kemudian menemukan cara lain untuk meningkatkan nilai produknya. Ia tidak hanya menjual buah melon, tetapi juga menjual pengalaman.
Pengunjung dapat datang ke kebun, memetik melon secara langsung, sekaligus mengenal lebih jauh tentang tanaman dan proses budidayanya.
Konsep tersebut kemudian dikembangkan dengan menghadirkan sektor food and beverage.
Awalnya, food and beverage dibuat untuk mendukung aktivitas kebun. Setelah pengunjung memetik dan menikmati melon, mereka membutuhkan minuman atau makanan sebagai pelengkap. Seiring berjalannya waktu, keduanya justru berkembang menjadi bisnis yang saling mendukung.
Farm mendukung food and beverage, sementara food and beverage membantu menarik pengunjung ke farm.
Belajar Sebelum Memasuki Masa Pensiun
Menurut Agus, salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap usaha setelah pensiun akan mudah dilakukan.
Padahal, kenyataan di lapangan tidak selalu sama dengan teori.
Karena itu, persiapan sebelum pensiun menjadi hal yang sangat penting. Ia menyarankan agar seseorang mulai belajar sebelum benar-benar memasuki masa pensiun.
Selain belajar, Agus juga menekankan pentingnya memiliki mentor dan partner yang dapat dipercaya.
Ia sendiri mendapatkan pendampingan dari Pak Turasman yang memiliki pengalaman panjang di bidang perkebunan. Bagi Agus, belajar dari pengalaman orang lain jauh lebih efisien dibandingkan harus mengalami semua kesalahan sendiri, terlebih ketika waktu menjadi semakin berharga di masa pensiun.
Mengembangkan Usaha Melalui Kemitraan
Melihat banyak orang tertarik menjalankan usaha melon tetapi belum memiliki pengalaman, Agus kemudian mengembangkan konsep kemitraan.
Melalui kemitraan tersebut, mitra tidak hanya mendapatkan greenhouse, tetapi juga belajar mengenai proses usaha dari awal.
Mulai dari membangun greenhouse, menyiapkan infrastruktur, melakukan budidaya, hingga memasarkan hasil panen.
Model ini juga menjadi cara Agus untuk berbagi pengalaman kepada lebih banyak orang.
Ia bahkan membatasi pengembangan awal dengan empat greenhouse untuk empat mitra berbeda. Tujuannya bukan sekadar memperbesar bisnis, tetapi juga memberikan kesempatan kepada orang lain untuk belajar dan memiliki usaha sendiri.
Membangun Masa Pensiun yang Bahagia
Bagi Agus, keberhasilan di masa pensiun tidak hanya diukur dari besarnya pendapatan.
Ada dua hal yang menurutnya penting untuk mencapai kebahagiaan.
Pertama, melakukan sesuatu yang kita senangi.
Kedua, melakukan sesuatu yang bisa membuat orang lain senang.
Prinsip tersebut menjadi dasar bagaimana Agus membangun kehidupan setelah pensiun.
Ia ingin memiliki aktivitas yang membuat dirinya bahagia, sekaligus menciptakan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.
Baginya, keberhasilan bukan hanya ketika tanaman melon berhasil tumbuh dan menghasilkan panen. Kebahagiaan juga muncul ketika orang lain datang, belajar, menikmati hasil kebun, dan mendapatkan pengalaman baru.
Pertanian Harus Melahirkan Petani Entrepreneur
Dari pengalamannya, Agus melihat bahwa pertanian Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Namun, masih banyak petani yang menjalankan usaha dengan metode konvensional dan belum menghitung usaha tani secara menyeluruh.
Menurutnya, petani perlu berkembang menjadi petani entrepreneur.
Artinya, petani tidak hanya memahami cara menanam dan menghasilkan produk, tetapi juga mampu menghitung biaya, memahami pasar, menentukan harga, mengelola risiko, dan menikmati keuntungan dari usahanya.
Inilah yang menjadi salah satu pesan penting dari perjalanan Agus Sistio.
Masa pensiun bukan akhir dari produktivitas. Dengan persiapan, ilmu, mentor, dan perhitungan yang tepat, masa pensiun justru bisa menjadi awal kehidupan yang lebih tenang, produktif, dan membahagiakan.
Melalui Alu Farm Indonesia di kawasan Jalan Ngalangan, Kaliurang KM 10, Agus juga membuka kesempatan bagi mereka yang ingin belajar, berbagi pengalaman, maupun membangun usaha melon melalui kemitraan.
